Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

BAPER II

Masih seputar dunia kampus, tulisan ini merupakan sambungan dari tulis berjudul PHP. Selain seringkali memberi harapan palsu, mahasiswa juga kerap sekali baper. Diberbagai ajang, terutama ajang cari kuasa di kampus. Politik kampus merupakan serangkaian agenda tahunan yang konsisten dilaksanakan. Saya akan menyebutkan ajang 'cari kuasa', karena biasanya setelah mendapat kuasa, walau janji mengabdi tapi tetap saja memanfaatkan kuasa untuk kepentingan pribadi dan atau kelompok. Proses cari kuasa di kampus bagi mahasiswa adalah perlombaan sangat menarik. Bak rebutin janda muda. Selalu menarik dan semua hal rela dikorbankan untuk dapat kuasa. Transaksional, bagi-bagi jabatan, bagi-bagi proyek hingga money politic tak terhindarkan. Proses politik semacam ini tak membuat pelakunya menjadi dewasa, malah semakin kekanak-kanakan. Belum lagi, ketika gagal mendapat kuasa, baper dan akhirnya perpecahan antar calon. Setelah itu fitnah sana-sini, gosip kiri kanan, senggol depan belakang dan s...

P.H.P

 PHP alias pemberi harapan palsu merupakan salah satu kalimat yang sering diucapkan oleh kalangan muda. Kalimat ini, biasanya diperuntukkan bagi mereka yang sering memberi harapan baik, namun tak kunjung ditepati. Istilah lain juga sering disebut gosting. Virus ini pun merambat sampai kedunia perkampusan. Terutama saat penerimaan mahasiswa baru. Penerimaan mahasiswa baru, biasanya ditandai dengan Ospek (Orientasi Pengenalan Kampus) atau istilah lain yang biasanya tiap kampus berbeda. Tetapi, substansi sama saja, ini sebagai ucapan selamat datang untuk mahasiswa. Saat ospek ada dua type mahasiswa senior. Pertama cool dan paling diatas segalanya. Biasanya ini anak BEM, saat ospek, mereka seolah menjadi malaikat di kampus, tak pernah keliru, tak pernah salah, paling disiplin dan sebagainya. Maklum senior, harus jaga martabat dan wibawa didepan junior. Walaupun pada akhirnya nanti akan terlihat, jiwa pragmatis,  instan  dan palas dari anak-anak BEM yang sering sekali sibuk me...

B.A.P.E.R

Tulisan saya kali ini ingin menyoroti beberapa fenomena yang sering kita saksikan, baik secara langsung maupun melalui media. Ada satu fenomena menggelikan bagi saya, terutama dalam melihat kebijakan-kebijakan pemerintah yang cendrung"alay". Bisa jadi karena mereka baper, terutama dalam menanggapi mural yang dibuat dibeberapa kota. Iya, seperti pemerintah kita sangat baper atau bahkan kehilangan akal sehat hanya karena ungkapan hati rakyat melalui mural-mural. Seharusnya pemerintah menjadikan hal tersebut sebagai bahan evaluasi kerja, terutama ditengah pandemi, bukan malah sebaliknya sibuk menghukumi rakyatnya. Apalagi disibukkan dengan menghapus mural-mural yang tersebar. Iyaa begini jadinya kalau pemerintah sudah terlalu baper dalam menanggapi segala hal yang muncul. Saya sepakat dengan ungkapan presiden Jancokers, Mbah Tejo, seharusnya mural dengan nadanya menyinggung dihapus, maka yang memuji-muji pemerintah juga dihapus. Atau memang pemerintah kita tengah gila pujian yaa...

Dimensi Perjuangan Gerakan Mahasiswa

Intensitas pertemuan dengan beberapa aktivis muda semakin meningkat. Mulai dari kepengurusan tingkat komisariat, cabang, wilayah hingga nasional kerap mengajak saya ngopi santai dan diskusi. Pembicaraan mulai dari kaderisasi hingga Politik. Pertemuan tersebut menjadi semakin menarik, karena tiap orang yang saya temui punya karakteristik masing-masing. Karakteristik yang saya maksud ialah topik pembicaraan. Memang menarik, karena semakin tinggi tempat seseorang maka kepentingan politis semakin menjadi-jadi. Jika, kita ngobrol dengan temen-temen yang ada di komisariat tidak jauh tentunya dengan kaderisasi, atau program diskusi apa yang bisa dilakukan Minggu depan. Kemurnian pikir dan gerak masih terawat ditengah komisariat. Hal ini yang membuat saya selalu betah duduk setengah hari dengan anak-anak komisariat. Mereka juga masih terhitung lugu dengan dunia dan apa yang terjadi, mereka adalah lahan empuk untum intervensi kebaikan agar tidak jadi bebek-bebek baru. Begitulah suasana komisari...

Kebenaran atau Kuasa??

  "Menyuarakan kebenaran tidak harus melalui politik" Potongan kalimat tersebut disampaikan oleh Gurunda kami dalam salah acara pelatihan Aktivis Peneleh. Pastinya, Kalimat tersebut berdasarkan realitas yang ada saat ini. Dimana hampir semua kalangan untuk mencapai tujuannya atau untuk mendapatkan legitimasi selalu melalui jalur politik-ekonomi (institusional drift). Kita bisa melihat realitas menjamurnya partai politik, baik itu yang Islam, Nasional maupun yang mengaku"dua-duanya". Mereka selalu berfikir dan terjebak pada pemikiran bahwa mengubah sesuatu harus melalui politik. Parahnya lagi, millenial atau pemuda terbawa oleh arus deras gerakan politik praktis tersebut. Bahkan tidak segan-segan, pemuda yang katanya memiliki idealisme tinggi, rela jual diri, senggol sana sini, salip kanan kiri demi mencapai yang mereka anggap puncak, "kemenangan". Padahal itu bukanlah puncak! Jika melihat Rasulullah, maka puncak dari perjuangan itu ialah kebermanfaatan unt...