Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Tulus

Berbagai fenomena di negeri ini teru bermunculan. Mulai dari pembungkaman rakyat dengan dihapuskan mural kritik kepada pemerintah hingga tak ke-alpha-an solusi atas penderitaan rakyat, terutama di tengah Pandemi. Belum lagi kiya lihat fenomena pemerintah yang sibuk dengan pencitraan. Bahkan saya sendiri muak melihat ini. Beberapa waktu lalu, saya mengikuti beberapa pejabat negara di Instagram. Sering sekali lewat dibranda saya status para pejabat tinggi negara. Yang mengherankan semua statusnya adalah pencitraan atas nama keberhasilan memimpin, baik tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga Nasional. Tak kalah mengherankan lagi, status pamer-pamer ala pejabat kerap kali bermunculan di Instagram. Di tengah masyarakat yang lapar, masyarakat yang susah, mereka masih saja sibuk dengan pencitraan untuk kuasa. Saya heran, pemerintah sibuk pamer keberhasilan ditengah banyaknya masyarakat yang tidak punya pekerjaan, atau bahkan dirumahkan akibat pandemi. Belum lagi caption mereka mengatasnamakan...

Dewasa Melalui Dunia Taman Kanak-kanak

Dunia anak-anak memang menjadi dunia yang menyenangkan, menggembirakan, tanpa topeng, tanpa acting, semua dijalani dengan kejujuran. Barangkali dunia anak-anak yang kuta butuhkan diumur dunia yang semakin tua ini. Dunia kita tengah dipenuhi oleh kepalsuan, mulai dari kepalsuan diksi hingga aksi yang berujung pada materialistik. Bahkan ditengah kegaduhan, krisis dan derita, masih banyak yang menggunakan topeng kepalsuan. Pemerintah sibuk berdiksi, satu sisi ada pula yang sibuk mencari kuasa. Semua dipenuhi topeng. Sepertinya memang benar, kita membutuhkan dunia anak-anak yang penuh kejujuran, ditengah konstruksi berhala-berhala yang penuh kebohongan. Kita butuh dunia anak-anak yang tulus, ditengah banyaknya manusia yang sibuk saling sikut-menyikuk, senggol sana sini, tikung kiri dan kanan. Barangkali memang benar kita membutuhkan dunia anak-anak yang cukup dengan apa yang mereka punya terutama ditengah dunia yang serakah ini. Kita memang harus kembali dunia anak-anak yang suka berbagi t...

Surabaya, Puan dan Virus Kuasa

Surabaya, salah satu kota metropolitan yang ada di Indonesia. Sebagai ibu kota dari Provinsi Jawa Timur, Surabaya menjadi kota yang banyak di kunjungi oleh masyarakat Indonesia bahkan luar Indonesia. Karenanya politisi tanah air banyak juga mempromosikan diri di kota pahlawan ini. Tak terkecuali ketua DPR RI, Bu Puan. Ahad kemarin saya mengunjungi kota terbesar kedua di Indonesia ini. Dan jika anda akhir-akhir ini berkunjung ke Surabaya. Anda akan menyaksikan penampakan yang luar biasa di Kota yang pernah dipimpin oleh menteri sosial, Bu Risma. Penampakan yang juga saya temui saat berkunjung Kemarin. Penampakan tersebut ialah baliho besar dari puan ditiap sudut kota bahkan tiap perempatan. Saya tidak paham apa yang terjadi di Negeri kita. Tetapi, yang jelas ini adalah salah satu gejala sosial. Bahkan, selama menyusuri kota tersebut, saya merasa muak melihat tiap perempatan jalan. Bagaimana tidak, ditengah situasi gaduh akibat pandemi seperti ini, politisi masih saja sibuk berdandan unt...

BOSAN

Rasa bosan adalah hal lumrah yang dimiliki oleh setiap individu. Bahkan, semua orang pasti pernah merasa bosan, terutama dalam menjalankan aktivitas keseharian. Pun sekarang, dalam menjalani beberapa hal terkait regulasi pemerintah, rasanya rakyat tengah B.O.S.A.N. Misalnya aturan PPKM. Sejak Pandemi Covid-19, ada berbagai kebijakan pemerintah untuk menekan penyebaran Pandemi ini. Terutama kebijakan untuk membatasi aktivitas masyarakat. Mulai dari PSBB, PSBB transisi, PPKN Darurat hingga PPKM level empat yang terus menerus dicicil. Sejak 10-23 April 2020 lalu, pemerintah menetapkan aturan PSBB untuk wilayah Jakarta, dan beberapa wilayah lainnya. Kemudian diperpanjang hingga tanggal 4 Juni. Selanjutnya PSBB transisi, lalu PPKM Darurat pada 3 Juli ditetapkan oleh presiden Jokowi untuk pulau Jawa dan Bali. Dan terakhir, PPKM level tiga dan smpat pada 26 Juli-2 Agustus. kalau makan Mi Gancokaan, ini level sudah lumayan pedas. Janji tinggal janji, harapan hanya bersisa kekecewaan. Harapan l...

CARPER

Kesibukan lain pemerintah selain safari keberbagai kota, sibuk bukan rakyat sana sini, bahkan mural tak bersalah saja di hapus, juga sibuk cari perhatian (carper). Mulai dari tebar pesona di media sosial hingga Pinggir jalan. Keseksian kuasa di 2024 menang sangat menggiurkan. Lomba cari perhatian saja sudah dimulai sejak dini. Fenomena cari perhatian kini menjamur. Kita bisa liat, tiap pinggir dan perempatan kota hampir tak pernah absen dari baliho. Mulai dari baliho bertuliskan kepak sayap, siap bekerja, jaga imun, jaman now hingga jualan lebel Agama (aGUS) bertebaran bak ulat bulu yang kerap membuat bulu kuduk merinding. Parahnya lagi, ditengah situasi seperti sekarang, pemimpin sibuk menghamburkan uang untuk cari muka dipinggir jalan. Katanya, pembuatan Baliho mencapai 15jt. Coba uang itu digunakan untuk membantu masyarakat terdampak Covid, ngk usah cari muka, nanti juga bakal dapat muka. Tapi begitulah, pemimpin kita sudah tidak tahu malu lagi. Sibuk sana sini hanya untuk merebut k...