Dari Makam Hingga Puncak ar-Rahmah

Kemarin (2/11), seluruh santri dan guru SMA Islam Bani Hasyim berkunjung ke Mojokerto, Jombang, dan Blitar. Dalam kegiatan bertajuk Ziarah & Jelajah Peradaban tersebut, kami mengajak santri untuk merefleksikan perjuangan ulama dan para pendiri bangsa. Hal terpenting adalah agar mereka mampu memahami bahwa ada kehidupan setelah kehidupan di dunia.


Di Mojokerto, kami mengunjungi dua destinasi: Makam Syaikh Jumadil Kubro dan Museum Trowulan. Di museum, kami belajar tentang banyak hal, terutama seputar Kerajaan Majapahit, kerajaan terbesar dan tertua di Indonesia. Setelah belajar selama kurang lebih satu jam, rombongan melanjutkan perjalanan ke Jombang.

Di Jombang, ada dua tujuan utama: makam KH. Wahab Chasbullah, inisiator, pendiri, sekaligus penggerak Nahdlatul Ulama. Santri tidak hanya perlu tetapi wajib belajar dan memahami sejarah serta perjuangan kiai ini. Selain itu, Kiai ahli Fiqh ini juga menjadi salah satu tokoh yang berpengaruh dalam kemerdekaan Indonesia. Destinasi kedua adalah Kawasan Makam Tebuireng, tempat disemayamkannya tokoh-tokoh besar seperti Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahid Hasyim, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah), dan tokoh-tokoh lain yang berpengaruh, baik dari kalangan pria maupun wanita.

Makam-makam di Jombang menjadi tempat belajar sejarah yang wajib dikunjungi oleh pelajar agar tidak melupakan jati diri sebagai anak bangsa. Perjalanan selama kurang lebih satu jam membawa kami tiba di makam Kiai Wahab di Tambakberas, di mana kami melakukan registrasi, tahlil, dan doa bersama. Setelah itu, kami lanjutkan perjalanan ke Tebuireng dengan kegiatan serupa, namun di Tebuireng kami juga istirahat untuk makan siang dan sholat Dzuhur.

Sebagai seseorang yang pernah tinggal di Jombang, saya masih ingat tiap sudut Tebuireng, karena memang tidak banyak yang berubah, termasuk warung pojok yang dulu sering kami kunjungi untuk makan. Makanannya lezat dengan pilihan prasmanan dan harganya sangat terjangkau untuk kantong mahasiswa waktu itu. Saya dan beberapa santri makan di sana sambil berbincang dengan seorang teman, Mas Nandar, yang kebetulan saya undang untuk bertemu di sana.

Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan ke Blitar. Dalam perjalanan, hujan rintik-rintik membuat suasana semakin syahdu, terlebih mendengar cerita Pak Zuhri yang duduk di sebelah saya. Di Blitar, kami mengunjungi dua tempat: Makam Bung Karno, Sang Proklamator, dan Masjid Ar-Rahmah.


Makam Bung Karno sebenarnya sudah pernah saya kunjungi beberapa kali, sejak pertama kali menjejakkan kaki di Jawa. Dulu, rombongan ISMA’U NTB mengunjungi makam ini dalam liburan pertama kami. Tidak banyak yang berubah di sini, termasuk museum dan perpustakaannya, yang dulu pernah menjadi lokasi bedah buku bersama Aktivis Peneleh Blitar. Namun, sayangnya makam ini terkadang dipolitisasi oleh beberapa pihak, terutama politisi, untuk membangun citra, begitu juga makam-makam pejuang yang lain. Ternyata, bukan makamnya yang berubah, tetapi cara pandang dan perilaku manusia yang terus mengalami degradasi.

Seperti di makam-makam sebelumnya, kami bersama santri hanya melakukan tahlil, doa, dan berfoto bersama. Kami kemudian melanjutkan perjalanan pulang melalui pasar yang sangat padat. Berbagai kebutuhan dijual di sini, termasuk banyak kaos bertuliskan "Bung Karno". Saya menemani santri-santri berbelanja, dan pada akhirnya ikut tergoda juga untuk berbelanja.

Setelah perjalanan sekitar satu jam menuju tempat parkir Bus, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Ar-Rahmah di Blitar untuk sholat Maghrib. Saya sudah lama mendengar tentang masjid ini, yang terkenal karena pengelolaannya yang baik dan konstruksinya yang megah. 

Saya sangat terkesan saat memasuki masjid ini, bukan hanya karena pengelolaannya, tetapi juga pelayanannya yang sangat baik. Setibanya di sana, petugas memberikan petunjuk kepada pengunjung, serta menyediakan air minum, kopi, teh, dan wedang jahe secara gratis. Masjid ini memang dirancang untuk mengingatkan kita pada suasana Masjidil Haram. Bahkan, bagi yang pernah ke Makkah, masjid ini terasa seperti replika dari Masjidil Haram.


Saat sholat, suara imam tidak hanya enak didengar tetapi juga menggetarkan hati. Bahkan salah satu santri mendekat dan berbisik, "Kalau rumahku dekat masjid ini, Mas, aku bakal sholat lima waktu di sini." Saya pun spontan menjawab, "Itulah pentingnya masjid dikelola dengan baik dan diisi oleh orang-orang yang kompeten, terutama anak muda."


Semoga dari kunjungan ke makam-makam ini, santri dapat mencapai puncak ar-Rahmah, sebagaimana kunjungan terakhir kami di Masjid Ar-Rahmah. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pancasila vs Neolibralisme

P.H.P

Istiqomah