Danau Toba Dalam Jeratan Keserakahan

 


Saat pertamakali sampai di Medan dan bertemu beberapa orang, banyak dari mereka bilang, tidak bisa dikatakan atau tak sempurna kunjungan ke Medan atau Sumatera Utara kalau belum ke Danau Toba. Danau Toba merupakan salah icon provinsi Sumatera Utara. Danau Toba hadir akibat letusan Gunung Supervulkan. Selain sejarah alamiah dari danau tersebut, terdapat juga cerita rakyat yang tersebar ditengah masyarakat. Jika mengambil satu kesimpulan dari cerita tersebut, menggambarkan bahwa manusia kerap kali tidak biaa memegang apa yang sudah diomongkan.

Hari ini (14/11) saya berkesempatan mengobati rasa penasaran akan keindahan danau Toba yang diceritakan kawan-kawan. Iya disisi lain saya juga ingin menyempurnakan kunjungan ke Sumatera. Hhe

Sekitar pukul 9 pagi kami berangkat dari Percut menuju Dana Toba. Perjalanan yang ditempuh sekitar 4-5 jam. Mulai dari jalan sempit, tol hingga jalan gunung yang berkelok-kelok. Kayak janji pemerintah saja, yang bilang tak ambil untung dari PCR ee ternyata berkilo-kilo untungnya.

Kita lupakan janji mereka, lanjut perjalanan panjang menuju Danau Toba. Sepanjang jalan, terutama jalan tol, kami dihidangkan dengan pendangkalan tak sedap. Kalau dilagu naik-naik ke puncak gunung, kiri kanan lihat cemara. Kalau kami, kiri kanan liat pohon sawit. Sempat ngobrol dengan salah satu kawan, dulu sebelum sawit semua adalah hutan. Tapi sudah beberapa tahun terakhir digusur dan diganti sawit.

Iya itupun sawitnya tidak terawat dengan baik mas, orang-orang cuma mau ambil untuk saja, tidak suka merawat bahkan tak segan juga ngerusak hutan, ungkap salah satu kawan dengan nada kesal.

Nah, itu juga mas yang menambah panasnya kota medan, sahut salah satu yang lain. Ya satu sisi, karena kegilaan manusia atas sawit, mengakibatkan banyaknya bencana alam seperti banjir, longsor dll. Memang kesalahan fatal ketika pemerintah dengan gampang mengganti hutan kita dengan sawit, belum lagi berbicara tentang perubahan iklim, cuaca dan lain-lain. Rasanya mudharat lebih besar dari manfaat.

Setelah perjalanan lama menyaksikan kerusakan lingkungan tentu disertai beberapa keindahan pula, akhirnya kamipun tiba di salah satu masjid, sholat Dhuhur lalu istirahat sejenak. Kebetulan samping masjid ada orang jualan. Saya kira harga jajanan akan mahal dan naik, karena memang sudah hampir sampai Danau Toba, jadi sebagaimana tempat wisata lainnya, harga naik semau penjual. Tetapi tidak, harga tetap saja normal, saya sedikit kaget dan bertanya ke ibunya, bu kenapa harga disini dengan di kota normal (sama saja)?, Iya mas, kita jualan deket masjid yaa bukan hanya untuk cari untung, tapi berkahnya juga, jawab ibu tersebut.

Andai saja semua orang mencari keberkahan atas hartanya, barangkali tidak ada yang curang, apalgi sampai jadi rakyat akar rumput sebagai ladang bisnis. Bisnis vaksin, PCR dan yang lain-lain. Hhe ups balik lagi~

Pasca istirahat sejenak kami beranjak kembali melanjutkan perjalanan menuju danau Toba. Sekitar 30 menit perjalanan, dengan udara yang sejuk karena masih ada hutan yang rimbun di kanan jalan. Kami pun tiba di Toba, sebelum turun ke bawah, kami makan bersama di tebing sambil menikmati pemandangan indah yang danau Toba yang penuh kesejukan, air yang jernih, serta orang-orang yang sedang terlihat sangat bahagia. Semua terlihat bahagia diatas perahu, pesisir danau hingga tempat karaoke danau Toba.

Dua puluh menit berlalu, makan pun Selesai, kami bergegas ke bawah mencari perahu untuk keliling danau dan nyebrang ke Samosir. Hari sudah sore, perahu penyeberangan agak sulit ditemukan. Salah seorang bapak-bapak menawarkan kepada kami, namun dengan harga yang sangat tinggi, kamipun mencari perahu lain. Hingga akhirnya dapat perahu yang sesuai dengan tarif disana.

Rombongan naik perahu, kami menunggu sekitar 10 menit, Perahu pun hidup dan jalan. Awalnya kami diajak keliling bibir danau, memang pemandangan yang nampak sangat indah. Walaupun hutan-hutan disekitar sudah banyak digantikan dengan Pohon pinus. Karena memang kalau baca isu di media, tahun 2012, sebagaimana saya kutip dalam Wikipedia bahwa Pemkab Samosir menerbitkan surat keputusan (SK) Bupati Samosir No. 89 tanggal 1 Mei 2012 tentang Pemberian Izin Lokasi Usaha Perkebunan Hortikultura dan Peternakan seluas 800 hektare di Hutan Tele, di Desa Partungkot Nagijang dan Hariara Pintu, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara kepada PT Gorga Duma Sari (GDS) yang dimiliki seorang anggota DPRD Kabupaten Samosir, Jonni Sitohang. Kemudian dilanjutkan dengan Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) yang diberikan oleh Kepala Dinas Provinsi Sumatra Utara melalui SK Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Samosir Nomor 005 Tahun 2013. Ketua Pengurus Forum Peduli Samosir Nauli (Pesona), Rohani Manalu menyatakan bahwa izin yang didapatkan ini membuat PT GDS melakukan penebangan atas kayu-kayu alam di dalam hutan tanpa memiliki AMDAL. Rohani juga menyatakan bahwa akibat lain adalah terjadinya longsor dan banjir yang menimbulkan korban jiwa.

Selalu saja, pemerintah kita jadi aktor utama dalam kerusakan hutan. Memang menyedihkan, harus ada UU atau regulasi yang membahas tentang ini, agar perusak dan perusuh tidak semena-mena. Salam dari Medan

 

Memotret Indonesia

Medan, 16 November 2021

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pancasila vs Neolibralisme

P.H.P

Istiqomah