Medan Keras(?)
Sebelum berangkat ke Medan beberapa hari lalu, saya banyak mendengar cerita orang Medan yang keras dan "kasar". Sampai di kapal, saat jumpa dengan orang Medan asli tapi sudah lama merantau di luar Medan, kami diingatkan kalau orang Medan keras, orang medan kasar, bar-bar dan lain sebagainya. Sebagai orang yang sering berkunjung ke beberapa daerah di Indonesia, saya juga penasaran apa iyaa Medan semenakutkan dalam cerita orang-orang tersebut? Apalagi pikir saya, saya sebagai orang yang berasal dari timur Indonesia, tidak jarang menjumpai watak manusia yang keras. So, rasa penasaran terhadap cerita-cerita tersebut semakin bertambah.
Senin 1 November 2021 kapal kami berlabu di Pelabuhan Belawan Medan. Saat di kapal kami juga sudah diingatkan "nanti kalau kapal sudah sampai pelabuhan, jangan keluar ke jalan raya sampai ada temen yang jemput, kalau keluar bisa hilang kalian" kata salah satu bapak yang tempat tidurnya tidak jauh dari kami. Namun, saat sampai di Pelabuhan, perut dalam keadaan sangat lapar, pasalnya di kapal tidak dapat sarapan karena ketiduran (pelni sistemnya siapa cepat dia dapat) hhe. Akhirnya saya saya langsung keluar cari makan, walau temen saya mengingatkan pesan bapak tadi. Pikirku masa iyaa Segede ini bisa ilang.
Hingga sampai depan gerbang memang ada banyak supir angkot, bus, ojek, becak dan lain-lain yang menawarkan pengantaran sampai titik tujuan. Dengan modal "sudah ada yang jemput" akhirnya lolos dan menemukan warung. Satu misteri terpecahkan. "Siapa bilang Medan keras?"
Dalam perjalanan Menuju penginapan kami tidak banyak membicarakan Medan, tapi lebih banyak menceritakan Binjai, karena memang salam Binjai sedang viral. Hhe
Sekitar 1 jam perjalanan, kami tiba di penginapan. Belum begitu lama duduk dan merebahkan tubuh, saya penasaran dan mengajak Mas Fikri, Aktivis Peneleh Medan untuk keliling kota, sambil cek ombak, biar kayak bu Susi. Hhe
Akhirnya, keliling Medan pun dimulai. Selama diatas kendaraan mas Fikri banyak menceritakan mulai dari jalan, bangunan, pusat-pusat kota, hingga kebiasaan berkendaraan orang Medan yang terhitung "tidak sabaran". Tapi menarik, karena kita dituntut juga untuk berani, tapi tetap hati-hati. Yaa, berkendaraan di Medan jarang sekali sepi dari suara laksonan motor, mobil, angkot yang saling bersambutan satu dengan yang lain. Jalan ramai ada di Medan.
Perjalanan pertama selesai, kami pulang dan istirahat di penginapan.
Tit tit.... Dua hari berikutnya!
Rasanya sudah terbiasa dengan jalanan Medan, senekat apapun di jalan, masih saja lebih nekad orang Sumbawa. Hhe (just menghibur diri). Tapi saya tidak ingin membicarakan orang di jalan lagi. Karena biasa kayak negara kita, salip sana sini, senggol kanan kiri, lakson dan garap yang bisa digarap.
Saya ingin bicara "watak orang di Medan" secara keseluruhan. Bagi saya, selalu menarik membicarakan manusia, apalagi watak atau karakter. Selalu ada yang unik.
Pertama, tesis yang mengatakan bahwa orang medan keras, itu tidak benar adanya. Hanya saja, kalau berbicara memang tidak bisa pelan. Jadi terdengar selalu ngegas dan ngebass. Tapi jika lebih jauh lagi membersamai mereka, kita akan lihat, bahwa orang Medan adalah masyarakat yang sangat mudah bergaul dengan siapapun. Tidak jaim dan selalu asyik diajak bicara.
Beberapa aktivis yang saya temui, sangat asyik diajak ngobrol, tentang apapun dan tidak ada jaim-jaiman satu dengan lain. Berbeda misalnya dengan beberapa kota yang saya kunjungi. Selalu saja ada mohon maaf ketum organisasi yang mendewakan diri dan jabatan. Yaa begitulah orang-orang, dan satu hal bahwa siapa bilang "Medan Keras(?)"
Medan, November 2021
Tinta Juang

Komentar
Posting Komentar