Parasyte Quarantine Film Monohok Elegi Bumi
Hari ini saya baru saja menyelesaikan film menarik berjudul "Parasyte Quarantine". Film Jepang yang dirilis tahun 2008 silam tersebut telah ditonton oleh jutaan manusia dari berbagai negara. Film yang berdurasi 1 jam 49 menit itu disadur dari sebuah serial manga yang berjudul sama. FYI, bukan Parasyte yang aktor utamanya satu keluarga itu, ini beda ya, Kawan.
Film tersebut menceritakan tentang bumi yang ingin dikuasai oleh para parasit. Bumi yang semakin hancur membuat pertumbuhan mereka semakin ganas. Suatu malam, parasit itu tiba-tiba mucul dari perairan, lalu menyusuri kota untuk mencari inang terbaiknya, yakni manusia.
Parasit berorientasi merusak otak manusia. Mereka menjangkiti inangnya dan melalui telinga dan hidung. Namun, dari sekian parasit yang menjangkiti manusia dan jahat, ada satu parasit yang menjadi baik dan bersahabat dengan inangnya. Nama dia Migi. Parasit yang awalnya gagal masuk ke otak karena calon inangnya sedang menggunakan earphone itu, akhirnya masuk melalui tangan. Dikarenakan si inang menali tangannya dengan kabel untuk mencegah parasit itu semakin masuk, ia hanya bisa mempengaruhi tangan saja. Tentu, tanpa memengaruhi otak inangnya. Hal itulah yang membuat Migi menjadi manusiawi, saat Sinichi Izumi, si tokoh utamanya, bercerita kepada Migi bahwa ibunya pernah mengorbankan tangan sehingga melepuh terkena air panas demi dirinya.
Ketika menontonnya, beberapa hal berkontemplasi di kepala. Termasuk menghubungkannya dengan realitas depan mata. Sedikit dalam memang, namun meronta-ronta ingin saya ungkapkan.
Dalam salah satu dialog, pemimpin dari parasit mengungkapkan bahwa bumi harus dikuasai sepenuhnya oleh mereka. Misi ini dijalankan setidaknya dengan dua cara.
Pertama menguasai dan mengendalikan manusianya. Bak melihat sejarah bangsa kita, hal pertama yang dilakukan oleh parasit tersebut, ialah memengaruhi pemikiran manusia. Penjajahan intelektual dan paradigma manusia. Film yang berlatar di kampus tersebut, memulai menguasai manusia melalui jalur pendidikan. Yakni melalui parasit yang menyamar menjadi guru.
Alasannya simpel, tiap apapun yang dilakukan manusia membutuhkan pendidikan, maka semua orang melakukan apapun demi Pendidikan. Kadang, kerap kali kita tidak bertanya ilmu apa yang sedang dipelajari. Apakah sudah sesuaikah dengan cara padang manusia yang seharusnya? Dan seterusnya. Sehingga, mereka yang memiliki kepentingan, tidak jarang masuk dalam ruang-ruang kita melalui pendidikan.
Kedua, parasit-parasit tersebut menguasai bumi melalui gerakan politik, yakni masuk ke ranah konstitusi. Iya, melalui konstitusilah yang mampu mengubah dan menciptakan hal apapun yang dikehendaki. Maka, konstitusi menjadi hal penting ketika ingin melakukan perubahan. Apapun itu, baik pendidikan, politik, sosial, ekonomi, dan lain-lain lahir dari kebijakan konstitusi.
Barangkali, film tersebut menggabungkan keadaan bumi saat ini. Bumi yang sedang dikuasai oleh "parasit" yang berwujud manusia. Semua lini, politik, pendidikan, ekonomi, sosial, kebudayaan bahkan agama sudah dikuasai oleh mereka. Dalam adegan film, parasit-parasit tidak jarang memakan manusia. Pun dalam kehidupan, tidak jarang para tuan memakan daging rakyatnya sendiri. Mulai dari minyak gooeng yang digoreng oleh elit, krisis sosial ekologis, korupsi, nepotisme, hingga keinginan untuk menguasai negeri dengan perpanjangan masa kuasa. Iyaa, padahal juga tidak banyak karya yang penting. Hanya ada jualan kartu, atas nama nama rakyat, ingin memperkosa demokrasi. Semua gaduh!!
Walakin, di tiap situasi selalu ada pembaharu dan pengkonstruksi ruang dan waktu. Mereka selalu hadir dari kalangan yang sadar dan tercerahkan. Mereka berjuang melakukan perawatan untuk memerdekakan ummat dari belenggu selain Tuhan.
Idzan, layaknya dalam film, sekarang ada dua pilihan, mau jadi bagian dari parasit atau jadi makhluk tercerahkan yang membawa perubahan sebagai mana para nabi dan ulama'.
Malang, 5 Maret 2022
Komentar
Posting Komentar