Si (Desa) Budak Kota, Begitu & Akan Selalu Begitu


Tidak bisa dipungkiri lagi, jika membangun negara atas prinsip pertumbuhan berbasis politik ekonomi, akan banyak menghasilkan korban. Terutama korban akibat kesenjangan. Namun sayangnya, otak politisi kita dipenuhi oleh materi yang selalu melihat kemajuan berdasarkan logika pertumbuhan. Sehingga tak jarang rakyat dikorbankan. Banyak contoh disekitar kita, Wadas misalnya, menjadi bukti keagungan pertumbuhan ekonomi, rakyat hanya selalu jadi korban. Begitu dan ajan terus begitu.

Dilain sisi, jika bicara kesejahteraan, barangkali sudah menjadi rahasia publik, bahwa kesenjangan hadir dominan dibandingkan kesejahteraan. Desa dan kota menjadi cermin baik bagi kita. Ismail Hadad dalam tulisannya di Prisma mengungkapkan bahwa, kesenjangan pembangunan kota dan desa (baik fisik maupun SDM) dikarenakan prioritas diletakkan pada bidang pembangunan pertanian saja, dus berarti untuk daerah pedesaan, namun kenyataan konsentrasi pembangunan fisik dan arus modal terutama kongsi dengan modal masing, lebih banyak bergerak dan lebih pesat merubah wajah kota-kota daripada kondisi di pedesaan. Sementara proses perubahan kota yang drastis itu berlangsung begitu pesat, tanpa ada persiapan yang cukup memadai dari pihak kota-kota itu sendiri.

Barangkali memang benar adanya jika dari dulu, desa dianggap sebagai budak kota. Atau bahkan desa hanya sapi perahan, dimana keuntungan ekonomi, bahan makanan murah, energi gratis dan sumber buruh murah mengalir.

Maka, atas dalih pertumbuhan ekonomi, orang pedesaan diboyong ke kota dalam agenda urbanisasi, selanjutnya "proses urbanisasi menjadi pabrik krisis sosial-ekologis". Alih-alih sejahtera, orang pedesaan sekali lagi hanya dijadikan buruh yang dibayar murah meriah. Dan tentu gak semeriah acara saat kampanye presiden Jokowi.

Selanjutnya, dengan dalih pertumbuhan dan perputaran ekonomi, bahkan saat PPKM Darurat sekalipu, event internasional di negeri ini terus berjalan, tak ada Pandemi yang ada hanya keuntungan ekonomi, MotoGP Lombok salah contoh. Namun, satu sisi, masyarakat di akar rumput dibiarkan kelaparan dan mati. Aktivitas gerak dan aktivitas ekonominya dibatasi! Rakyat tak lagi penting, yang utama adalah ekonomi. Itupun ekonomi yang menguntungkan si tuan dan puan.

Rakyat selalu jadi kambing hitam atas semuanya kesalahan dan kebodohan pemimpin. Iya begitu dan akan selalu begitu. 

Namun barangkali bisa begini, jika saja ada kesatuan dan persatuan untuk bergerak mewujudkan peradaban yang religius-berkebangsaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pancasila vs Neolibralisme

P.H.P

Istiqomah